Kamis, 17 Maret 2011

TRAUMA THORAKS


TRAUMA THORAKS

I.       Diagnosa medik: trauma thoraks
II.    Definisi :
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat thorax akut. Trauma thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan tembus. Trauma tumpul merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang disebabkan oleh benda tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan kerusakannya karena gejala-gejala umum dan rancu (Brunner & Suddarth, 2002).

III. Etiologi
Penyebab dari trauma tumpul thoraks adalah kecelakan tabrakan mobil atau terjatuh dari sepeda motor. Pasien mungkin tidak segera mencari bantuan medis, yang selanjutnya dapat mempersulit masalah (Brunner & Suddarth, 2002).

IV.  Patofisiologi (Web of Caution)
Trauma tumpul thoraks terdiri dari fraktur iga, flail chest, serta pneumothoraks. Trauma pada dinding dada juga menghambat inspirasi. Individu yang mengalami fraktur tulang rangka multipel dapat mengalami flail chest, suatu kondisi fraktur yang menyebabkan ketidakstabilan di sebagian dinding dada, dan individu tersebut mengalami pernapasan paru paradoksal. Pada kondisi ini, paru-paru dibawah area yang mengalami cedera berkontraksi saat inspirasi dan menonjol pada saat ekspirasi, sehingga menyebabkan hipoksia.
Hipoksia jaringan merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke jaringan oleh karena hipovolemia ( kehilangan darah ). Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat perubahan tekanan intrathorax atau penurunan tingkat kesadaran.

Web of Caution

Trauma pada thoraks
 


Terjadi fraktur iga
(flail chest)


 


        Ketidakstabilan                                                           Pernapasan
        dinding napas                                                              paradoksal
 

Kerusakan                Gawat                         Inspirasi                                      Ekspirasi
Pernapasan         napas yg berat

                                                          Dinding dada tertatik                  Tekanan Intrathoraks
                                                             (berkontraksi)                                 meningkat


                                                          Jml udara yg dihirup                 Segmen flail terdorong
                                                          dlm paru2 berkurang                      keluar (menonjol)


                                                               Hipovolemi                  Merusak kemampuan pasien
                                                                                                    Dlm menghembuskan napas

             Pola pernapasan                          Hipoksia                                  Ansietas
                   inefektif        

                                                         Penurunan tingkat
                                                              kesadaran   


                                                          Resiko tinggi thd
                                                   trauma penghentian napas              

V.                 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain inspeksi jalan napas, thoraks, vena leher, pernapasan, tanda-tanda vital, dan warna kulit. Thoraks dipalpasi terhadap nyeri tekan dan posisi trakea. Auskultasi bunyi napas dan bunyi jantung.

VI.              Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik/Penunjang
Pemeriksaan diagnostik antara lain rontgen dada, urinalisis, elektrolit dan osmolalitas, saturasi oksigen, gas darah arteri, dan EKG.

VII.           Diagnosa Keperawatan
-                           Pola pernapasan inefektif b.d penurunan ekspansi paru
-                           Resiko tinggi terhadap trauma/penghentian napas
-                           Ansietas b.d ancaman kematian


VIII.        Intervensi Keperawatan

1.  Pola pernapasan inefektif b.d penurunan ekspansi paru
Intervensi
Rasional
1.   Mengidentifikasi etiologi/faktor pencetus, contoh kolaps spontan atau pun trauma.

2.   Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan pernapasan, dispnea, sianosis, atau perubahan tanda vital.

3.   Auskultasi bunyi napas.


4.   Catat pengembangan dada.

5.   Kaji pasien adanya nyeri tekan bila batuk, napas dalam.

6.   Pertahankan posisi nyaman, biasanya dengan meninggikan kepala tempat tidur.
7.   Bila selang dada dipasang, periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.
1.   Pemahaman penyebab kolaps paru perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapeutik lain.
2.   Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan hipoksia/perdarahan.
3.   Bunyi napas dapat menurun atau tak ada pada lobus, segmen  paru,atau seluruh area paru.
4.   Pengembangan dada sama dengan ekspansi paru.
5.   Sokongan terhadap dada dan otot  abdominal membuat batuk lebih efektif/ mengurangi trauma.
6.   Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru.

7.   Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekpansi paru optimum atau drainase cairan.




2.      Resiko tinggi terhadap trauma/penghentian napas
Implementasi
Rasional
1.   Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase dada.

2.   Pasangkan kateter torak ke dinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan atau mengubah posisi klien:
      - Amankan sisi sambungan selang
      - Beri bantalan pada sisi dengan kasa.
3.   Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien dengan lalulintas yang rendah.
4.   Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring/menarik selang.
1.   Informasi tentang sistem bekerja memberikan keyakinan dan menurunkan ansietas pasien.
2.   Mencegah terlepasnya kateter dada dan menurunkan nyeri/ketidaknyamanan sehubungan dengan penarikan atau menggerakkan selang.
      - Mencegah terlepasnya selang
      - Melindungi kulit dari iritasi
3.   Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan risiko kecelakaan jatuh

4.   Menurunkan resiko obstruksi drainase/terlepasnya selang.


3.      Gangguan pertukaran gas b.d gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
Intervensi
Rasional
1.   Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernapas.


2.   Observasi warna kulit, membran mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral..
3.   Awasi frekuensi jantung.


4.  Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi.



5.  Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang.
6.   Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif.
1.   Manifestasi distres pernapasan tergantung pada indikasi derjat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2.   Sianosis kuku menunukkan vasokonstriksi atau respons tubuh terhadap demam.
3.   Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam/dehidrasi tetapi dapat sebagai respon terhadap hipoksemia.
4.   Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
5.   Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan oksigen.

6.   Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi.

4.      Ansietas b.d ancaman kematian
Intervensi
Rasional
1.   Identifikasi persepsi pasien tentang ancaman yang ada dari situasi.

2.   Observasi respon fisik,seperti gelisah, tanda vital, gerakan berulang.

3.   Dorong pasien/orang terdekat untuk mengakui dan menyatakan rasa takut.


4.   Identifikasi pencegahan keamanan yang diambil, seperti marah dan suplai oksigen. Diskusikan.

1.   Mendefinisikan lingkup masalah individu dan mempengaruhi pilihan intervensi.
2.   Berguna dalam evaluasi derajat masalah khususnya bila dibandingkan dengan pernyataan verbal.
3.   Memberikan kesempatan untuk menerima masalah, memperjelas kenyataan takut dan menurunkan ansietas.
4.   Memberikan kayakinan untuk membantu ansietas yang tak perlu.



DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC.

Doenges. M. E. (2000). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC.

Hudak, C. M & Barbara, M. G. (1997). Keperawatan kritis: pendekatan holisik. Jakarta: EGC.
Medicine & Linux. (2008). Trauma tórax. Diperoleh pada tanggal 27 Oktober 2008 dari http://medlinux.blogspot.com/2008/06/trauma-thorax.html.
Perry & potter. (2006). Fundamental keperawatan. Jakarta: EGC.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar