Rabu, 16 Maret 2011

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR FEMUR

http://yandrifauzan.blogspot.com/


ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR FEMUR


I.             Diagnosa medik:
Fraktur Femur
II.          Definisi:
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner & Suddarth, 2001). Femur adalah tulang terpanjang dan kuat pada tubuh manusia (Watson,2002). Fraktur femur adalah fraktur yang terjadi pada tulang femur.
Fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat diantaranya: kolum femoris, trokhanter, batang femur, suprakondiler, kondiler, kaput

III.       Etiologi:
1.      Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut.
2.      Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan.
3.      Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma. Contoh fraktur patologis: Osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi tulang dan tumor tulang.

IV.        Patofisiologi (Web of Caution)
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.

V.           Pemeriksaan Fisik
1.      Inspeksi
a.       Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
b.      Fistulae.
c.       Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
d.      Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
e.       Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
f.        Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2.      Palpasi
a.       Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
b.      Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian.
c.       Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau distal).
d.      Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler.

VI.        Pemeriksaan Laboratorium/Diagnostik/Penunjang:
  1. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
  2. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak
  3. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel), Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma.
  4. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
VII.     Diagnosa keperawatan yang sering muncul
1.      Resiko tinggi terhadap trauma b.d kehilangan integritas tulang (fraktur)
2.      Gangguan rasa nyama: nyeri (akut) b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunak
3.      Resiko tinggi terhadap infeksi b.d tak ada kuatnya pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkugan, prosedur invasif, traksi tulang

VIII.  Intervensi Keperawatan dan Rasional
1.      Resiko tinggi terhadap trauma b.d kehilangan integritas tulang (fraktur)
Tujuan:   Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam trauma dapat berkurang atau tidak terjadi
Kriteria hasil: Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur, menunjukan pembentukan kalus.
Intervensi
Rasional
1.      Pertahankan tirah baring/ ekstremitas sesuai indikasi
2.      Sokong fraktur dengan bantal/ gulungan selimut
3.      Pertahankan posisi/ integritas traksi

Kolaborasi
Kaji ulang foto/ evaluasi

1.      Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/ penyembuhan
2.      Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan posisi
3.      Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang

Memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/ proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas

2.      Gangguan rasa nyama: nyeri (akut) b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunak
Tujuan:  Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau terkontrol.
Kriteria hasil : a.           Nyeri berkurang atau hilang
b.      Skala nyeri 1
c.       Klien menunjukkan sikap santai
Intervensi
Rasional
1.      Observasi tanda-tanda vital
2.      Kaji ulang lokasi nyeri, itensitas dan tipe nyeri
3.      Atur posisi kaki yang sakit (abduksi) dengan bantal

4.      Ajarkan dan dorong tehnik relaksasi napas dalam
Kolaborasi
Berikan analgetik sesuai indikasi
dengan dokter, pemberian analgetik
1.      Peningkatan nadi menunjukan adanya nyeri
2.      Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi

3.      Meningkatkan sirkulasi yang umum, menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot
4.      Dengan tehnik relaksasi dapat mengurangi nyeri

Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

3.      Resiko tinggi terhadap infeksi b.d tak ada kuatnya pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkugan, prosedur invasif, traksi tulang
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam resiko infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : a.      Balutan luka bersih
b.      Bebas drainase purulen atau eritema dan demam
c.       Leukosit dalam batas normal (5000-10.000 ul)
Intervensi
Rasional
1.      Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas

2.      Kaji sisi pen/ kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/ rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/ bau tak enak
3.      Instruksikan klien untuk tidak menyentuh sisi insersi
4.      Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak
5.      Selidiki nyeri tiba-tiba/ keterbatasan gerakan dengan edama likal/ eritema ekstremitas cedera
Kolaborasi
  1. Awasi pemeriksaan laboratorium lengkap

  1. Berikan antibiotik sesuai indikasi 
1.      Pen atau kawat tidak harus dimasukan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan, atau abrasi (dapat menimbukan infeksi tulang)
2.      Mengindikasikan timbulnya infeksi loka/ nekrosis jaringan


3.      Meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi
4.      Tanda perkiraan infeksi gas ganggren


5.      Mengindikasikan terjadinya osteomelitis



1.      Anemia dapat terjadi pada osteomielitis, leokositosis biasanya dan dengan proses infeksi
2.      Antibiotik spektrum luas dapat  digunakan secara profilaktif


Daftar Pustaka
Anonim. (2008). Asuhan keperawatan dengan fraktur femur. Diperoleh pada tanggal 18 Oktober 2008 dari http://www.kfoes.cn/index.php/article/girls/2008-09-24/1103.html.

Doenges,M. A., Moorhouse, M. F.,& Geissler, A.C (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

Ilham. (2008). Kondas fraktur kolumna femur. Diperoleh pada tanggal 18 Oktober 2008 dari http://healthreference-ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-fraktur-collum-femur.html.

Smeltzer, Z. C,& Brenda, G. B .( 2001 ) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8, vol 3. Jakarta: EGC





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar