Rabu, 16 Maret 2011

ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN KONTRAKSI

http://yandrifauzan.blogspot.com/

 
ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN KONTRAKSI

A.       Defenisi & klasifikasi
1.    Definisi
            Kehamilan kontraksi atau persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) (Mansjoer, 2000)
2.    Klasifikasi  his menurut sifatnya.
·        His pendahuluan :
-                      His tidak kuat, tidak teratur
·        His pembukaan ( Kala 1)
-                      His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm
-                      Mulai kuat, teratur dan sakit
·        His pengeluaran (his mengedan) ( kala II)
-                      Sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi dan lama
-                      His untuk mengeluarkan janin
-                     Koordinasi bersama antara: his kontraksi otot perut, kontraksi diafragma dan ligament

·        His pelepasan Uri ( Kala III)
-                 Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta
·        His pengiring ( kala IV)
-                Kontraksi lemah, masih sedikit nyeri, pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari.
B.       Etiologi
Sering tidak diketahui, ada faktor –faktor yang mempengaruhi:
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221)
1.Kondisi umum
2. Keadaan sosial ekonomi rendah
3. Kurang gizi
4. Anemia.
5. Perokok berat, dengan lebih dari 10 batang/ hari.
6. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun.
7. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi, toxemia, placenta                   previa, abruption placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus.
8. Penyulit kebidanan
9. Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi
10. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol,  merokok dan caffeine

C.       Manifestasi Klinis
1.      Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3-5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam
2.      Pada fase aktif, itensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas
3.      Usia kehamilan antara 20-37 minggu
4.      Taksiran berat janin sesuai dengan usia kehailan antara 20-37 minggu
5.      Persentase janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan preterm
D.       Pemeriksaan penunjang
1.      Pemeriksaan darah lengkap dan hitung jenis
2.      Urinalisis
3.      USG untuk melihat taksiran berat janin, posisi janin, dan letak plasenta
4.      Amniosentesis untuk melihat kematangan beberapa organ janin.
E.     Penatalaksanaan
Perlu dilakukan penilaian tentang;
1.         Umur kehamilan
2.         Demam atau tidak
3.         Kondisi janin (jumlahnya, letak/ presentasi, taksiran berat janin,hidup atau gawat janin, kelaian kongenital
4.         Letak plasenta perlu diketahuiuntuk antisipasi irisan seksio sesarea

 Prinsip penanganan
1.      Menhentikan kontraksi uterus/ penundaan kelahiran
2.      Persalinan berjalan terus dan menyiapkan penanganan selanjutnya.

Upaya menghentikan kontraksi uterus:
Kemungkinan obat-obat tokolitik hanya berhasil sebentar, tapai penting untuk di pakai memberikan kortikosreroid sebagai induksi maturitasparu bila usia kehamilan kurang dari 34 minggu.Intervensi ini bertujuan untuk menunda kelahiran sampai bayi cukup matang. Penundaan kelahiran ini dilakukan bila:
1.         Umur kehamilan kurang dari 35 minggu
2.         Pembukaan serviks kurang dari 3 cm
3.         Tidak ada amnioniti, preeklamsi atau perdarahan yang aktif
4.         Tidak ada gawat janin.
Ibu masuk rumah sakit, lakukan evaluasi terhadap his dan pembukaan.
1.    Berikan kortikosteroid untu kematangan paru janin
2.    Berikan dosis betametason 12 mg IM selang 12 jam
3.    Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi yang jelas.


Dirmah sakit dilakukan:
1.      Observasi pasien selama 30-60 menit.penatalaksanaannya tergantung kontraksi uterus serta dilatasi pembukaan serviks.
a.         Hidrasi dan sedasi, yaitu hidrasi dengan NaCl 0,9%: Dekstrosa 5% atau Ringer Laktat: Dekstrosa 5% sebanyak 1:1 dan sedasi dengan morfin sulfat 8-12 mg Im selama 1 jam sambil mengobservasi ibu dan janin.
b.        Pasien kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu:
Kelompok I        : Pembukaan serviks terus berlangsung maka berikan   tokolisis
KelompokII       : Tidak ada perubahan pembukaan dan kontraksi uterusmasih terjadi maka di berikan tokolisis
Kelompok III             : Tidak ada perubahan pembukaan dan kontraksi uterus berkurang maka pasien hanya diobservasi.

2.      Berikan tokolitis bila janin dalam keadaan baik, kehamilan 20-37 minggu, pembukaan serviks kurang dari 4 cm, dan selaput ketuban masih ada.
Jenis tokolisis adalah beta mimetik adrenergik, magnesium sulfat 4 g ( 200 ml MgSO 10 % dalam 800 ml dekstrosa 5% dengan tetesan 100 ml/ jam, etil alkohol, glukokortikoid: dexametasone 12 mg perhari selama 3 hari.

3.      Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala atau dilakukan episiotomi lebar dan ada perlindungan porsep terutama pada kehamilan 35 mgg.lakukan seksio sesarea bila janin letak sungsang, gawat janin , taksiran berat janin 1.500 g.


F.        Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1.      Nyeri berhubugan dengan kontraksi otot
2.      Aktivitas intoleran berhubungan dengan Hipersensitifitas otot
3.      Risiko tinggi terhadap keracunan toksik  behubungan dengan efek samping tokolitik.
4.      Resiko tinggi terhadap cidera janin berhubungan dengan melahirkan bayi preterm/premature
5.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman yang dirasakan pada diri dan janin
6.      Kurang pengetahuan mengenai persalinan preterm berhubungan dengan kurang informasi
G.    Rencana Keparawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan kontraksi otot
Tujuan: nyeri teratasi
Kriteria hasil: - nyeri menjadi minimal, terkontrol
Intervensi:
-                 Percepat proses penerimaan dan lakukan tirah baring pada klien dengan posisi miring kiri
-                 Tinjau ulang teknik relaksasi
-                 Gunakan tindakan kenyamanan seperti posisi, gosokan punggung dan sentuhan terapeutik
-                 Kaji tanda vital ibu dan DJJ janin.
2.      Aktivitas intoleran berhubungan dengan Hipersensitifitas otot
Tujuan            : - intoleen aktivitas tercapai
KH                : -         menurunkan tingkat aktivitas
-                  Mengikuti aktivitas tepat pada situasi
Intervensi:
-                Jelaskan alasan tirah baring, penggunaan posisi rekumben lateral kiri/miring, dan penurunan aktivitas.
-                 Anjurkan  klien melakukan ambulasi atau mengubah posisi
-                 Berikan tindakan kenyamanan seperti gosokan punggung, perubahan posisi.
-                 Kaji TTV
-                 Anjurkan klien untuk istirahat tidur

DAFTAR PUSTAKA

Bobak. (2005). Buku ajar Keperwatan Maternitas. Jakarta: EGC
 Doengos & Moorhouse. (2001). Rencana perawatan maternal/ bayi: pedoman untuk perencanaan dan dokumentasi  perawatan klien. Ed 2. Jakarta: EGC

Mansjoer, A (2000). Kapita Selekta kedokteran. Jakarta: Media Asculapius
Manuaba, I (1998). Ilmu kebidanan, penyakit, kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar